Ekonomi

Mengapa Suku Bunga Bank Indonesia Begitu Tinggi?

1

 

Suku Bunga Bank Indonesia

 

Mengapa Suku Bunga Bank Indonesia Begitu Tinggi?

Suku bunga kita termasuk suku bunga yang tertinggi dibanding suku bunga negara-negara lain di dunia. Perbedaanya cukup besar. Inilah yang membuat saya bertanya-tanya mengapa bisa demikian.

Suku bunga perbankan yang tinggi tidak baik untuk iklim usaha. Usaha di sektor riil hampir tidak dapat lepas dari kredit perbankan, karena ada kalanya usaha membutuhkan dana tambahan untuk kelangsungan usaha. Terutama saat kondisi ekonomi global kurang menguntungkan seperti sekarang ini. Bunga kredit untuk usaha kecil bisa mencapai 18% saat ini. Mungkin suku bunga rentenir di Amerika atau di Jepang nggak setinggi itu. Bunga yang tinggi mengakibatkan ekonomi biaya tinggi yang mana akan mempengaruhi harga jual hasil produk (consumer goods) nya. Harga consumer goods yang naik akan mengakibatkan inflasi. Sementara itu otoritas moneter mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Itulah salah satu contoh dari banyak lingkaran setan dalam sistem ekonomi, dimana sektor usaha secara keseluruhan yang tergencet dalam lingkaran ini. Bagaimana kita bisa berharap sektor wirausaha bisa menggerakkan ekonomi nasional?

Saya bukanlah seorang sarjana ekonomi, apalagi master, doktor, atau professor di bidang ekonomi. Saya cuma seorang awam yang sedang berusaha mengerti masalah ekonomi makro, dan merasakan beratnya beban bunga yang tinggi. Jadi tulisan ini tidak layak dan jangan dijadikan acuan untuk makalah, skripsi, desertasi, ataupun jurnal ilmiah karena mungkin banyak salah disana-sini karena memang saya kurang begitu mengerti.

 

Pengertian Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate)

Suku bunga Bank Indonesia atau yang lazim disebut sebagai BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan diumumkan kepada publik. Suku bunga Bank Indonesia diimplementasikan melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang yang akan berpengaruh untuk mencapai sasaran kebijakan moneter. BI rate inilah yang menjadi acuan langsung suku bunga SBI, suku bunga Pasar Uang Antar Bank dan juga mempengaruhi suku bunga perbankan oleh semua bank-bank di Indonesia.  Semua produk perbankan yang mempunyai unsur bunga akan terpengaruh dengan kebijakan ini, baik itu suku bunga deposito maupun suku bunga kredit. Suku bunga kredit, dari mulai bunga kredit investasi, kredit konsumsi maupun KPR, hingga semua varian-varian dibawahnya. Mungkin suku bunga rentenir pun juga bisa terpengaruh.

 

Fungsi BI Rate

Ada tiga fungsi utama (setahu saya) dari penetapan BI rate, yaitu antara lain: mengendalikan inflasi, mengontrol nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan mengontrol kondisi neraca transaksi berjalan.

 

1.   BI Rate sebagai instrument pengontrol inflasi

Hukum ekonomi mengatakan bahwa harga terbentuk atas penawaran dan permintaan (supply and demand). Ketika BI menerapkan kebijakan uang ketat (Tight Money Policy) dengan menaikkan suku bunga, diharapkan dapat menyerap uang yang beredar di masyarakat karena bunga deposito yang menarik. Karena jumlah uang yang beredar di masyarakat berkurang, demand atas consumer goods menjadi turun, otomatis harga menjadi turun. Begitu kira-kira jalan logikanya (CMIIW).

Data inflasi dikeluarkan oleh BPS. Dimana komponen-komponen yang menentukan perhitungan inflasi dikelompokkan dalam tujuh kelompok pengeluaran yaitu: bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olah raga, dan transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Entah mengapa rokok termasuk komponen perhitungan inflasi, seharusnya mendiskon cukai rokok yang tinggi dapat membantu mengurangi nilai inflasi. Melihat komponen-komponen diatas, saya justru berpendapat bahwa harga yang lebih perlu dikontrol ketimbang angka inflasi, bahkan dengan mengontrol harga otomatis angka inflasi juga terkendali (mungkin mengontrol harga lebih susah). Masyarakat pun nggak begitu peduli dengan angka inflasi, yang penting harga bahan pokok terjangkau. Betul memang kebijakan uang ketat dapat mengontrol harga dari sisi demand, tapi untuk kebutuhan pokok seperti bahan makanan, listrik dan gas sepertinya lebih relevan diintervensi dari sisi supply. Agak susah membayangkan orang rela nggak makan demi menabung. Bukan sarkastik, mengingat jumlah penduduk miskin Indonesia menurut BPS per maret 2015 masih cukup besar, diatas 11%. Itupun kalau akurat.

Mengontrol dari sisi supply dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi, hal ini malah menjadi bertolak belakang dengan kebijakan meningkatkan suku bunga. Karena peningkatan kapasitas produksi lazimnya membutuhkan tambahan modal, sementara bunga yang tinggi membuat produk consumer goods nya menjadi mahal yang artinya justru meningkatkan angka inflasi. Mengendalikan inflasi dengan menaikkan Suku bunga Bank Indonesia atau BI rate seharusnya bersifat jangka pendek, untuk jangka panjang menurut saya justru malah kontra produktif. Tapi kenyataannya selama ini BI rate kita selalu tinggi.

Pada intinya menurut saya BI rate mengontrol inflasi cenderung lebih dari sisi demand. Pertanyaannya sebegitu konsumtif kah budaya masyarakat kita dibanding negara lain, sampai harus sebegitu jauhnya kesenjangan tingkat suku bunga? Lebih celaka lagi kalau ternyata konsumtifitas tinggi tapi produktifitas rendah.  Inalillahi wainailaihi rojiun.

2.   BI Rate Sebagai Instrumen Pengendali Nilai Rupiah Terhadap Mata Uang Asing

Dengan menaikkan BI rate, diharapkan aliran modal asing untuk berinvestasi di Indonesia menjadi lebih meningkat. Karenanya permintaan terhadap rupiah menjadi meningkat otomatis nilai rupiah juga terapresiasi, karena nilai tukar mata uang juga ditentukan oleh supply and demand. Tapi hal ini hanya masuk akal kalau BI rate “hanya” berpengaruh terhadap suku bunga instrument investasi dalam bentuk rupiah.

Yang menjadi pertanyaan buat saya adalah, mengapa dengan kesenjangan suku bunga yang begitu besar dibandingkan negara-negara lain, tapi rupiah masih rentan terdepresiasi terhadap dollar Amerika sebagai mata uang utama dunia. Mengapa rupiah begitu inferior? Padahal Indonesia bukan negara yang miskin sumber daya alam. Sumber daya manusia juga besar. Jumlah penduduk Indonesia terbesar ke-empat setelah China, India, dan Amerika Serikat. Secara kuantitas jumlah penduduk kita unggul, entah kalau masalah kualitas. Tapi dengan suku bunga yang begitu tinggi kita masih butuh utang Bank Dunia. Kenapa investasi di Indonesia masih kurang menarik?

Sepengetahuan saya, dalam hal investasi ada sebuah hukum yang menyatakan bahwa keuntungan berbanding lurus dengan resiko. Seorang investor hanya akan mau berinvestasi pada sektor dengan resiko besar hanya kalau menjanjikan keuntungan yang besar pula. Investasi dengan resiko kecil semua orang juga mau, walaupun dengan keuntungan yang kecil. Pun hukum supply and demand berperan disini, dimana harga berupa nilai keuntungan.

Nah bisa jadi karena investasi di Indonesia dianggap beresiko tinggi. Mengapa?

Karena banyak scam kah?

Masalah kapabilitas sumber daya manusia kah?

Kurangnya kepastian hukum kah?

Kondisi stabilitas politik kah?

Birokrasi yang payah kah?

Kurangnya data-data penunjang untuk investasi sehingga investor merasa kurang pasti, kurang yakin dan malas untuk berinvestasi? Saya sekedar mencari data history harga cabai rawit 15 tahun terakhir saja susah.

Sepertinya semua pertanyaan tadi layak jadi alasan. Untuk jangka panjang akan lebih relevan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi ketimbang menaikkan suku bunga.

Lagi-lagi Suku bunga Bank Indonesia atau BI Rate sebagai instrumen pengendali nilai rupiah terhadap mata uang asing hanya relevan untuk jangka pendek, tapi kenyataannya berpuluh-puluh tahun BI rate kita tinggi.

Terlebih lagi karena tingkat suku bunga sudah selalu terjaga di angka yang terlalu tinggi, ketika betul-betul dibutuhkan untuk menjaga nilai tukar seperti saat ini, kita sudah tidak lagi punya ruang untuk menaikkan suku bunga.

3.   BI Rate Sebagai Instrumen Pengendali Kondisi Neraca Transaksi Berjalan

Transaksi berjalan. Berjalan kemana? Sebutan yang aneh.

Neraca transaksi berjalan (current account), yaitu sebuah neraca yang berfokus pada transaksi ekspor dan impor (barang maupun jasa), pendapatan investasi (masuk), pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri (keluar), serta saldo kiriman dan transfer uang dari dan ke luar negeri. Hasil dari perhitungan komponen ini akan menciptakan saldo dari neraca transaksi berjalan. Dikutip dari : www.sarjanaku.com

Saya sendiri gagal paham dan kurang mengerti kaitannya secara langsung mengapa BI rate bisa mempengaruhi kondisi neraca transaksi berjalan. Dalam beberapa berita sering kita temui bahwa penentuan BI rate dapat mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan, tanpa ada penjelasan kaitan dan logikanya. Mungkin dianggap semua orang sudah mengerti, dan hanya saya orang terbodoh di Indonesia yang belum mengerti.

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141120164808-78-12825/bi-rate-jadi-instrumen-pengendali-defisit-transaksi-berjalan/

http://www.kemenkeu.go.id/Berita/kenaikan-bi-rate-antisipasi-melebarnya-defisit-neraca-berjalan

Mudah-mudahan ada yang mau memberi pencerahan, silahkan beri pencerahan lewat komentar.

Saya masih bisa mengerti kalau yang disebut adalah neraca pembayaran (bukan hanya neraca transaksi berjalan), karena dalam neraca pembayaran juga melibatkan komponen Neraca modal (capital account). Logika nya jelas seperti yang saya tuliskan di fungsi nomor dua, mengundang aliran masuk modal asing.

Dan lagi-lagi ini menjadi semu dan justru menjadi beban, kalau hanya sekedar memodifikasi angka inflasi dan neraca, dan kalau modal yang masuk tidak tersalurkan secara produktif sementara bunga tetap harus dibayarkan. mBayarnya pake apa?

 

Kebijakan seyogyanya tidak hanya sekedar berorientasi pada angka-angka, tanpa memperhatikan hal-hal yang lebih fundamental.

BI rate ini diumumkan setiap bulan sekali, untuk sebuah kebijakan ini termasuk  kebijakan yang paling sering dilakukan. Dampaknya besar dan massive bagi kondisi ekonomi sebuah negara. Tapi sangat jarang sekali muncul kritikan tentang penetapan BI rate ini. Padahal kita punya seorang Ichsanuddin Noorsy yang bicaranya berapi-api apalagi ketika ngomongin masalah ekonomi. Sementara itu kebijakan-kebijakan lain yang relatif lebih sepele sarat menuai kritikan. Ahok merelokasi warga kampung pulo aja sampai jadi trending topic, meskipun efeknya cuma sebatas orang satu kampung.

Mungkin sudah menjadi tradisi bahwa BI rate kita sangat tinggi, sehingga terasa normal-normal saja.

 

“Sebaiknya kita mengerti, karena tanpa mengerti kita tidak bisa mengkritisi.”

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Advertisement

POPULAR

%d bloggers like this: